Pengadilan Agama Kelas 1A Pekalongan

Jl. Dr. Sutomo No.190 Pekalongan Timur - Kota Pekalongan

PELANTIKAN DAN PENGAMBILAN SUMPAH JABATAN PANITERA PENGADILAN AGAMA PEKALONGAN M. MUNIR, SH., MH.

Read more

PENGANTAR ALIH TUGAS Drs. H. JAMALI SEBAGAI PANITERA PENGADILAN AGAMA CILACAP

Read more

RAHASIA HIKMAH DIBALIK SALAT TEPAT WAKTU

Oleh:

DR.Drs.Muhlas,S.H.,M.H[1]

 

Berangkat dari memahami ayat Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56 :

 

Yang Artinya :” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Pemahaman pengabdian hamba kepada Tuhanya (Sang Khaliq)  dalam kontek ritual adalah sering disebut dengan istilah ibadah. Banyak bentuk ibadah yang dapat dilakukan hamba agar ibadah yang dilakukan mendapatkan nilai ( baca: ridla).  Dalam Islam membagi ibadah kedalam dua kategori yaitu ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah ( ibadah wajib dan selain wajib).

Secara hermeneutika orang awam setiap menyebut ibadah adalah selalu berbentuk salat, agar tulisan sederhana ini tidak melebar pada pemahaman lain dalam kontek ibadah hanya untuk salat, maka fokus maksud pemahaman pengabdian dari makna ayat 56 di atas akan difokuskan tentang pentingnya salat.

Allah SWT memberikan instrumen berupa akal fikiran kepada manusia  agar mampu melakukan kontemplasi betapa pemurahnya Allah SWT kepada hambanya, ternyata melalui metode salat akan ditemukan beberapa hikmah yang sangat sarat makna ; diantaranya berupa  anugerah rahmat, hidayah, maunah  dan maghfirah untuk hamba yang taat.

Salat merupakan metode komunikasi hamba dengan sang Khaliq, menurut Ibnu Taimiyah ;   ibadah pada asalnya mengandung pengertian rasa hina terhadap yang dipuja.”[2] Ada bagian ritual salat yang sangat fondamental yaitu saat hamba menyerahkan diri akan ibadah salatnya, hidup dan matinya untuk sang Khaliq adalah merupakan pengakuan betapa hinanya manusia di hadapan Allah SWT. Kondisi itu akan berbanding terbalik dengan betapa Allah SWT sangat Pemurahnya kepada hamba yang taat melakukan penghambaan dengan diberikan keridlaan yang luar biasa dan tidak akan diberikan kepada mahluk lain kecuali menjalankan perintahNya.

Banyak literatur dan forum kajian yang memberikan gambaran rinci bagaimana ummat manusia harus beribadah kepada Allah SWT, bahkan ummat Nabi Muhammad SAW  wajib bersyukur dengan tidak perlu susah payah mencari guru atau pembimbing rohani sampai dapat memahami dengan mudah dan sangat jelas melalui peran para Ulama’ Salaf yang dengan kema’rifatan ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga dapat  memberikan pencerahan melalui karyanya yang dapat difahami sealur dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Salat merupakan sarana paling utama yang menjadi konsep penghambaan manusia kepada Allah SWT, sampai-sampai disebutkan bahwasanya salat merupakan tolok ukur amaliah manusia selama hayatnya yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan sang Khaliq. Hal inilah mengapa dianjurkan salat dilakukan pada tepat waktu dan lebih baik dilakukan dengan  berjamaah, apabila dibahas betapa besarnya hikmah salat berjamaah dan bagaimana kaifiatnya akan memperlebar tulisan yang dikawatirkan justru akan bias. Untuk itu tulisan ini hanya dibatasi berkisar tentang hikmah salat dilakukan tetap waktu.

Penulis akan mencoba menampilkan hadits Bukhori nomor 522 sebagai jalan awal melakukan penjabaran kontemplasi, hadits dimaksud sebagai berikut :

حدّثنا عبدُاللهِ بنٌ يوسفَ قا ل حدّثنا مالكٌ عن أبي الزِنادِ عن الأعرَجِ عن أبي هريرةَ  أنّ رسول اللهِ ص.م. قال يَتَعَاقَبُونَ فِيكُم مَلاءِكَةٌ بالَيلِ ومَلاَءِكَةٌ بالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ في صَلاَةِ الفَجْرِ وَصَلاَةِ العَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الّذِيْنَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْألُهُم فَهُو اَعْلَمُ بِهِم كَيفَ تَرَكْتُم عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُم وَهُم يُصَلُّونَ. 

 روه البخري      

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Yusuf berkata,telah menceritakan kepada kami Malik dari Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah: bahwa Rasulullah SAW bersabda : Para Malaikat malam dan malaikan siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat fajar (subuh) dan Ashar, kemudian Malaikat yang menjaga kalian naik keatas hingga Allah ta’ala bertanyakepada mereka dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para HambaNya), keadaan mereka (para hambaNya) : dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu ? para Malaikat menjawab ; kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan salat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka,mereka sedang mendirikan salat”.

Betapa bahagianya hamba Allah yang sedang di laporkan oleh Malaikat  ke Rabbnya dalam keadaan yang demikian, bahkan Ulama sufi Imam Ghazali menulis dalam karya besarnya bahwa bagi hamba yang dilaporkan seperti dalam kondisi di atas mendapat garansi ampunan ; سبحن الله والحمد لله ولا اله الا الله و الله اكبر   penjelasan tersebut sebagaimana jawaban Allah SWT atas laporan Malaikat tentang hambaNya dalam redaksinya sebagai berikut :

 

... تَرَكْنَا هُم وهُم يُصلون فيقول الله سبحانه و تعالي  أشْهَدَكُم أنِّي قَد غَفَرتُ لَهُم.[3]

 Artinya :... saya tinggalkan mereka dan mereka sedang mendirikan salat; Allah SWT berfirman : saksikanlah oleh kalian para Malaikat bahwa aku telah mengampuni mereka.

 

Apa korelasinya antara Allah Yang Maha Tahu harus bertanya kepada Malaikatnya tentang hamba? Pertanyaan itu adalah merupakan bentuk kemurahan Allah kepada Hambanya  karena memberikan  imbalan langsung yang disaksikan oleh Malaikat.  Jadi peran pertanyaan tersebut dalam kontek agar Malaikat juga ikut menyaksikan betapa hamba yang taat sangat disayang oleh Allah SWT.

Ada harapan kecil yang ingin penulis sampaikan dalam paparan ini yaitu berupa ajakan untuk kita berlari berebut garansi ampunan Allah SWT  karena kesempatan itu tidak selalu ada menyertai kita.

Relakah kita melewatkan garansi itu? Lalu kapan kita akan berlomba mengejarnya? Semua tergantung pada pilihan habaNya.

Ujung dari kehidupan kita didunia adalah ridla Allah SWT, dengan garansi dari Allah  berupa  ampunan   Insya Allah Ridlo yang kita cari akan kita peroleh dengan syarat anjuran itu dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Buah dari ikhlas adalah sabar dengan sabar hidayah akan datang dengan hidayah semua amaliah akan ringan dilakukan.

Rahasia itulah sebagian dari rahasia-rahasia besar lainya  melakukan salat lima waktu dan amaliah hasanah  yang menyertai salat lima waktu itu yang menjadi hikmah di balik mengapa kita perlu salat tepat waktu dan lebih dianjurkan dengan berjamah.

Semoga kita mampu memeneg waktu dengan baik dapat melakukan salat tepat waktu dengan berjamaah apapun kondisinya dan di manapun kita berada agar kita mendapatkan kebahagian dunia dan akherat sehingga kita dapat tergolong  hamba yang khusnul khotimah. Aamiin. Aamiin . Aamiin  ya Allah ya Rabbal alamiin.

Wa Allah al a’lam bi al shawab.



[1] .Wakil Ketua Pengadilan Agama Pekalongan Kelas 1A.

[2] . https://jalahati.wordpress.com/2013/03/02/konsep-ibadah-dalam-islam/

[3] .Ihya’ Ulumiddin Juz 2 h.86.

Hutang syukur kepada Allah SWT

Oleh:

Dr. Drs.Muhlas,S.H.,M.H

 

 

 

1.    Pengantar.

Al- Qur’an Surah At-Tin ayat 4  Allah SWT mengingatkan bahwa  Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Pernyataan Allah SWT tersebut adalah merupakan anugerah karena manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan dan ketinggian martabat dibanding dengan mahluk lain, sekaligus merupakan beban berat kepada manusia dalam kontek pengabdian karena ada kewajiban yang harus di jalankan sebagai bentuk penghambaan.  Kedudukan kesempurnaan dan beban berat tersebut akan dapat dijalani dengan ringan apabila dibarengi dengan kesyukuran dan kesabaran,mengingat dari buah yang dijalankan terserbut adalah imbalan berupa kemuliaan kebahagiaan dan pahala dari Allah SWT (baca: ridla Allah).

Allah SWT dengan sifat Maha Pemurahnya telah menjamin segala kebutuhan manusia dan mahluk hidup lainya yang berada di alam semesta ini termasuk metode dan sarana pemeliharaannya, telah disiapkan oleh Allah SWT secara lengkap dan tidak pilih kasih kepada siapa yang harus dikehendaki melainkan semua mahluk hidup mendapatkan jatah secara merata dan adil. Sebagaimana jaminan Allah SWT yang tertuang dalam al-Qur’an surat Anbiya’ ayat 42 yang artinya : “ Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain Allah Yang Maha Pemurah”.

 

2.    Bentuk kemurahan Allah SWT.

Alam semesta telah disediakan untuk manusia dan mahluk hidup lainya oleh Allah SWT, baik komponen utama maupun pendukung penghidupan telah disediakan oleh Allah di jagat raya ini agar mahluk hidup dapat memanfaatkan. Dari semua yang disediakan tidak ada yang bayar kecuali dalam sistem manusia itu terdapat hambatan yang mengharuskan alat itu dibeli. Betapa murahnya Allah SWT yang menyediakan udara sebagai bahan utama untuk bernafas mahluk hidup termasuk manusia, kadar udara yang harus dikonsumsi mahluk hidup adalah oksigin,nitrogen,air dan lain lain, dari semua komponen tersebut telah tersedia di alam; kewajiban manusia adalah menjaga ekosistem alam agar tetap lestari demi keseimbangan mahluk hidup di dalamnya.

Bayangkan apabila semua harus dihargai dengan uang,pasti nominalnya akan besar dan tidak terprediksi oleh kita. Sebagai bahan perbandingan pada saat manusia mengalami ganguan kesehatan dan memerlukan bantuan udara di sebuah rumah sakit akan muncul biaya ( cost ) yang sangat tinggi ,pada hal udara yang yang maksud dibagi menjadi dua unsur yaitu oksigen dan nitrogen; dari dua nunsur itu harga telah ada harga standratnya.

Berapa kebutuhan riil bernafas manusia ?

Dalam satu kali nafas manusia memerlukan 0.5 Liter udara padahal dalam kondisi nurmal dalam satu menit setidaknya perlu 20 x tarikan nafas ( 20x 0.5 = 10 Liter udara). Dengan perbandingan oksigen dan nitrogen adalah 20 % dan 80%, maka dapat diasumsikan setiap bernafas perlu oksigen 100 ml dan 395 ml nitrogen atau dalam sehari perlu 2880 liter oksigen dan 11.376 Liter Nitrogen[2] . Jika harga oksigen Rp 25.000 perliter dan nitrogen itu Rp 9.950 perliter ,maka ongkor bernafas manusia dalam sehari dapat hitung :

2.880  x  Rp 25.000 =  Rp  72.000.000.

11.376 x Rp 9.950  = Rp 113.191.200.

                              Rp. 185.191.200.

Untuk satu bulan adalah 30 x Rp 185.191.200 = Rp 5.555.736.000. (lima milyar lima ratus lima puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh enam ribu rupiah) berapa untuk satu tahun dua tahun dan seterusnya?????

 

3.    Kewajiban mahluk kepada Tuhanya.

Allah SWT telah memberikan cara dan jalan untuk mengabdi kepada Allah sebagai bentuk penghambaan kepadaNya adalah dengan berbuat amal solih dan melaksanakan semua printahNya serta menjauhi laranganNYa, akan tetapi cara dan jalan yang diberikan Allah tersebut ternyata akan kembali juga hikmah dan manfaatnya kepada manusia itu sendiri dari buah apa yang diperbuat dari ibadahnya, seperti shalat yang dikerjakan akan menjamin manusia terjaga dari perbuatan keji dan munkar, dengan sedekah manusia akan terhindar dari balak,dengan kerendahan hati manusia akan terjaga dari berbagai penyakit dan lain sebagainya.

Tidak berlebihan apabila Allah SWT menciptakan manusia itu untuk beribadah kepadaNya, perintah tersebut adalah sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya dengan imbalan agar di alam selanjutnya memetik hasil dari jerih payahnya berupa ridlo yang dapat dirasakan di surgaNya.  Banyak hikmah dan keutamaan yang dapat kita gali dari seteiap ibadah dan amal solih yang kita laksanakan dengan ikhlas,hanya saja kebanyakan manusia tidak mau menyadari akan hal itu. Ketersediaan alam untuk kehidupan dan kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainya oleh Allah SWT tidak pernah dikurangi kadar dan kwalitasnya, tetapi manusia tidak menyadari kemurahan Allah itu dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Sarana dan jalan yang paling ringan yang diberikan Allah sebagai upaya mensyukuri nikmat atas kemurahan Allah SWT tersebut berupa perintah shalat, kenapa ringan? Karena sehari semalam hanya lima waktu dan tidak memakan waktu yang lama dibanding untuk tidur dan aktifitas lainya, tetapi dampak dan pahalanya sangat besar bahkan dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan : yang artinya : pertama kali amal yang dihisap di hari akhir adalah shalat, apabila shalatnya bagus akan memberikan dampak pada amal yang lain. Abu Hurairah r.a sewaktu di Madinah pernah menyampaikan; bahwa Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya sesuatu yang paling dulu dihisab pada hamba adalah shalatnya. Jika shalat itu baik maka ia telah menang dan sukses. Jika shalatnya rusak maka ia telah merugi”.

Dari uraian tentang hebatnya shalat tersebut kita wajib mengimani dan berusaha menjalankan dengan penuh keihlasan agar memperoleh ridloNya, cara singkat dan mudah memperoleh kesempurnaan shalat yang ditawarkan Rasulullah SAW adalah dengan cara berjamaah, cara ini syarat akan makna; antara lain :

1.    Dilipatgandakan pahalanya.

2.    Diampuni dosanya.

3.    Menjauhkan diri dari sifat munafik.

4.    Tumbuhnya persaudaraan, kasih sayang dan persamaan. dan lain sebagainya.

 

Dari besarnya hikmah tersebut wajar Rasulullah SAW mengingatkan agar kita segera mendatangi jamah saat adzan dikumandangkan,karena apabila tidak diindahkan seruan adzan tersebut untuk ikut berjaam Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدهممت أن اَمُرَ بِحَطْبٍ فَيَحْتَطِبُ ثُمَّ اَمُرَ بِا لصَّلاَةِ فَيُؤَذِّنَ لَهَا ثُمَّ اَمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ, ثُمَّ اُخَالِفَ اِلَى رَجُالٍ لاَيَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحْرِقَ عَلَيْهِم بُيُوتَهُمْ – متفق عليه

“Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku bertekad menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku suruh seorang adzan untuk sholat dan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, kemudian aku bakar rumah mereka”

Dalam riwayat lain disebutkan :

عن اِبنِ عبَّاسٍ ر ض قال : قال رسوُلُاللّهِ ص م : مَنْ سَمِعَ النِّدَاَءَ فَلَمْ  يَمْنَعْهُ مِنِ اتِّبَاعِهِ عُذْ رٌ ، قَالُوا : وَمَا العُذْ رُ ؟ قَال : خَوْفٌ اَو مَرَضٌ. لَمْ تُقْبَلْ مِنهُ الصَّلاةُ التِى صَلَّى.   روه ابو داود  وابن حبّان

Dari Ibnu Abbas R.a.Rasulullah SAW bersabda : barang siapa yang mendengar adzan dan tidak mendatangi tanpa udzur yang dapat menghalangi, maka shalat yang dikerjakan tidak akan diterima. Para Sahabat bertanya; apa yang menjadi udzur itu ? Rasulullah SAW menjawab : takut dan sakit. HR  Abu dawud dan Ibnu Hibban.

 

4.    Kesimpulan.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.    Agar kita termasuk dalam golongan orang yang beruntung kita wajib selalu meningkatkan syukur kepada Allah SWT.

b.    Cara syukur kepada Allah SWT yang harus kita wujudkan adalah dengan meningkatkan amal shalih dan berusaha menjauhi segala laranganNya.

c.    Memperbaiki cara shalat dan giat untuk berjamaah agar hidup mendapat rahmat ridla dan ampunan Allah SWT.

Demikian uraian singkat ini semoga dapat menggugah jiwa kita untuk bangkit dan berbuat lebih baik lagi , dan berdoa agar Allah SWT berkenan memberikan kekuatan kepada kita untuk menghidari laranganNya agar kita selamat serta selalu dalam naungan rahmat dan Ridlo Allah SWT. Aamiin. Wa Allah al a’lam bi al shawab.



[1] . Wakil Ketua Pengadilan Agama Kelas 1 A Pekalongan.

[2] . https://rizqyprimasatya.wordpress.com/2013/01/18/mari-berhitung-harga-nafas-kita-dalam-rupiah/.

ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

BERDASARKAN AL QURAN

(Ibnu Mulyono)

 

PENDAHULUAN

Tidak bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi persengketaan atara seseorang dengan orang lain atau antar kelompok dengan kelompok lain.

Ketika terjadi persengketaan, tidak jarang orang menyelesaikan sengketanya dengan caranya sendiri atau sering disebut main hakim sendiri. Menyelesaikan sengketa dengan caranya sendiri biasanya tidak menyelesaikan masalah tetapi justru menimbulkan masalah baru.

Al Quran memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah ketika terjadi persengketaan antara seseorang dengan orang lain.

NORMA YANG ADA DALAM AL QURAN

Firman Allah :

وجزؤا سيئة سيئة مثلها فمن عفا واصلح فاجره على الله انه لا يحب الظلمين (الشورى : 40)

Artinya : “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah, Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dhalim”. (Q.S. Asy Syura : 40).

Sepintas ayat ini tidak tampak membicarakan masalah persengketaan. Tetapi apabila dicermati dengan adanya kata “balasan”, “kejahatan”, “memaafkan”, dan “berbuat baik”, tentu ada dua pihak.

Dalam konteks ayat ini pokok masalahnya adalah adanya “kejahatan”, tentu ada dua pihak, yaitu : Pelaku kejahatan dan Korban Kejahatan.

Ayat ini memberikan dua alternatif penyelesaian apabila terjadi tindak kejahatan oleh seseorang terhadap orang lain.

Alternatif pertama, korban kejahatan boleh membalasnya dengan kejahatan yang serupa (seimbang/sama seperti kejahatan yang dideritanya) kepada pelaku kejahatan.

Dalam istilah hukum Islam, pembalasan suatu tindak kejahatan dengan kejahatan yang serupa disebut qisos.

Diantara ayat-ayat Al Quran yang lainnya yang menerangkan tentang qisos adalah :

1.        Surat Al Baqoroh : 178

يا يها الذين امنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحربالحر والعبد بالعبد والانثى بالانثى فمن عفي له من اخيه شيء فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان ...... (البقرة : 178)

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula) .......”

 

2.        Surat Al Maidah : 45

وكتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس والعين بالعين والانف بالانف والاذن بالاذن والسن بالسن والجروح قصاص فمن تصدق به فهو كفارة له ......(المائدة : 45)

Artinya :

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata denga mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya........”

Alternatif  kedua, korban kejahatan tidak membalas sama sekali bahkan memaafkan dan berbuat baik kepada pelaku kejahatan.

APLIKASI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT  

Ada perbedaan cara pelaksanaan penyelesaian sengketa antara alternatif pertama dengan alternatif kedua.

1.             Untuk penyelesaian sengketa dengan cara alternatif pertama, korban kejahatan tidak boleh dengan serta-merta membalas kejahatan tersebut kepada pelaku kejahatan, melainkan pelaksanaannya harus oleh Institusi/Lembaga yang berwenang yakni negara/pemerintah, dalam hal ini Pengadilan. Dan Pengadilanpun tidak bisa serta-merta ketika tahu ada seseorang melakukan kejahatan kepada orang lain lantas menqisosnya, atau juga tidak bisa si korban kejahatan langsung mengadu ke Pengadilan agar dilakukan qisos terhadap pelaku kejahatan. Semua ada prosedur yang harus ditempuh sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan untuk penyelesaian sengketa dengan cara alternatif kedua, dapat dilakukan oleh si korban sendiri karena cukup si korban kejahatan berikrar dalam dirinya sendiri atau dihadapan pelaku kejahatan bahwa dirinya telah memaafkan atas kesalahan/kejahatan yang dilakukan pelaku kejahatan. Sehingga pelaksanaannya cukup simpel bahkan sangat-sangat simpel tidak ada prosedur yang harus ditempuh karena dapat dilaksanakan pada waktu kejadian atau pada waktu kejahatan selesai dilakukan.

2.             Penyelesaian sengketa kejahatan dengan cara alternatif pertama adakalanya tidak dapat dilaksanakan atau pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang dikehendaki si korban. Hal ini bisa terjadi apabila terjadi kesalahan prosedur/beracara karena pelaksanaannya melibatkan pihak lain atau karena pelaku kejahatan meninggal dunia sebelum pembalasan/qisos dilaksanakan.

Sedangkan penyelesaian sengketa kejahatan dengan alternatif kedua pasti dapat terlaksana karena dilaksanakan oleh si korban sendiri dan tidak harus melibatkan pihak lain. Bahkan meskipun pelaku kejahatan telah meninggal dunia.

3.             Penyelesaian sengketa kejahatan dengan cara alternatif pertama hukumnya Mubah, karena pada ayat tersebut tidak disebutkan mendapat pahala dari Allah apabila korban kejahatan membalas dengan kejahatan yang sama kepada pelaku kajahatan.

Sedangkan penyelesaian sengketa kejahatan dengan cara alternatif kedua, hukumnya sunnah karena dijanjikan pahala dari Allah dengan firman-Nya : “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”.

Dengan memperhatikan perbedaan cara melaksanakan penyelesaian sengketa alternatif pertama dan alternatif  kedua, kiranya kita dapat mengambil pelajaran dari ayat 40 surat Asy Syura tersebut yakni, bahwa penyelesaian sengketa kejahatan dengan cara memaafkan lebih baik (karena dijanjikan mendapat pahala dari Allah) dari pada membawanya ke Pengadilan.

Disamping itu implikasi dari memaafkan dapat menjalin ukhuwah yang lebih erat, sedangkan membawa sengketa ke pengadilan dapat menimbulkan permusuhan.

 

(Wallahu a’lam).

IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM KEPADA WARGA NEGARA

 

Oleh : Dr.Drs.Muhlas,S.H.,M.H[1]

 

A.    Pendahuluan.

Mensitir pendapat Sulayman Ibn ‘Abd al-Qawi Ibn Abd al-Karim Ibn Sa’id atau yang populer dengan sebutan Najm ad-Din at-Tufi, seorang filosof Islam dari Bagdad menyatakan bahwa “ kemaslahatan manusia pada dasarnya adalah tujuan di dalam dirinya sendiri. Akibatnya perlindungan terhadapnya menjadi prinsip hukum tertinggi atau sumber hukum paling kuat”.[2] Pendapat tersebut di Indonesia sejalan dengan pemahaman populer dari Prof Cip (baca: Prof. Sacipto Raharjo) yang menyatakan bahwa hukum untuk manusia bukan manusia untuk hukum; konsekwensi pemahaman dimaksud adalah bahwa keberadaan hukum sebagai tatanan kehidupan harus mampu mengayomi dan melindungi manusia dari berbagai keadaan dan kebutuhan sepanjang dalam ranah keadilan (out of the book) ,bukan manusia dipaksa untuk mengikuti bunyi teks hukum (teks of the book).

 Gustav Radbruch seorang filosuf Jerman mengingatkan bahwa hukum itu harus mampu membawa pesan keadilan kepastian dan kemanfaatan[3] sebagai tujuan hukum, timbul pertanyaan apakah perangkat hukum selama ini sudah mampu memberikan tiga pesan tersebut. Ada dua hal berbeda yang perlu diharmonisasikan oleh pembuat hukum,penegak dan pemakai hukum,karena sistem hukum suatu Negara yang menyusun tatanan hukum dengan produk hukum positif adalah masih terkait dengan ranah politik berbeda dengan pemakai hukum yaitu warga Negara adalah tidak dalam ranah itu.

Penegak hukum adalah ranah netral dari kepentingan politik untuk menjembatani instrumen hukum yang dibuat lembaga resmi dengan warga Negara sebagai pemakai hukum. Ada bebrapa pilar penegak dalam hukum yaitu Hakim,Jaksa,Polisi dan Advokat dari beberapa pilar tersebut harus sinergi untuk menuju alur keadilan dalam menggali hukum demi kemaslahatan semua pihak.

 

B.   Rumusan Masalah.

Untuk memudahkan membaca,penulis perlu memilah dengan alur rumusan masalah,antara lain:

1.    Mengapa warga Negara harus di lindungi kepentingan hukumnya?

2.    Bagaimana bentuk perlindungan yang harus diberikan kepada warga Negara?

 

C.   Pembahasan.

1.    Perlunya perlindungan kepentingan hukum bagi Warga Negara.

Hukum dalam kehidupan berbangsa dan berNegara dipilah menjadi beberapa kelompok, dari sisi materiilnya ada hukum positif ada hukum Islam dan hukum adat. Dari sisi hukum yang dikodifikasi  dipilah lagi ada hukum pidana, hukum perdata,hukum dagang/bisnis,hukum tata usaha Negara dan lain sebagainya .   Dari sisi sistemnya ada yang menggunakan sistem statute law / Eropa kontinental, ada yang anglo sexon / common law ada yang mixe antara dua sistem tersebut dan hukum Islam.

Pemahaman warga Negara terhadap perangkat hukum tidak semua dapat digeneralisir bahwa mereka telah mengetahui sebagaimana slogan bahwa warga Negara wajib tahu undang-undang (ajaran fiksi hukum). Asas fiksi hukum menyatakan, setiap orang dianggap mengetahui adanya suatu undang-undang yang telah diundangkan. Dengan kata lain, fiksi hukum menganggap semua orang tahu hukum (presumptio iures de iure).[4]

Fakta di lapangan menunjukkan terjadi fariasi,baik antara mereka yang tau dan sadar hukum kemudian mematuhi, ada yang tau dan sadar itu aturan hukum tetapi tidak mematuhi dan sengaja melanggar serta ada yang betul-betul tidak mengatahui. Pada hal  dalam ajaran itu ketidaktahuan rakyat atas undang-undang tidak dapat dimaafkan (ignorantia jurist non excusat). Fiksi hukum dapat digolongkan merupakan asas yang mengandung alasan pembenar dari Negara untuk memberi rambu rambu kepada warga Negara bahwa semua warga Negara wajib tau dan taat pada undang-undang.

Mereka yang sudah mengetahui aturan itu saja ternyata berbeda dalam mensikapinya, misal kejadian viral yang terjadi akhir-akhir ini dengan kasus” Nurul Fahmi” yang membawa bendera merah putih bertuliskan kaligrafi kalimat thoyyibah dan gambar pedang saat demo ,kemudian di tangkap dengan alasan menodai dan menghina bendera Negara, pada hal masih banyak kasus lain serupa dengan berbagai moment  tetapi tidak diusut. Pemahaman ini berangkat dari terjadinya perbedaan pemahaman UU No 24 tahun 2009 tentang Bendera,Bahasa dan Lambang Negara yang berfariatif, ada yang mendasarkan harus ada pelapor baru di tindak lanjuti, ada menyatakan harus dilihat motifnya dulu dari tulisan itu digoreskan dalam bendera tersebut dan lain sebagainya.

Fakus dalam bidang perorangan/ perdata hukum sudah memberikan rambu-rambu sebagai batasan antara hak dan kewajiban warga Negara dengan warga Negara lainya atau warga Negara dengan Negara dan lain sebagainya. Keseimbangan  (balance) dan hak proporsional menjadi keniscayaan bagi semua warga Negara tanpa kecuali, memang hak dan kewajiban hukum warga Negara tidak dapat disama ratakan. Di situlah menurut tradisi keadilan dipandang sebagai pemeliharaan atau pemulihan keseimbangan (balance) atau jatah bagian (proportion) ,dan kaidah pokoknya seringkali dirumuskan sebagai “ perlakuan hal-hal yang serupa dengan cara yang serupa”, kendatipun perlu menambahkan kepadanya “dan perlakuan hal-hal yang berbeda dengan cara yang berbeda”.[5]

Negara sebagai wadah warga Negara mempunyai peran harus menciptakan kesejahteraan bagi warga Negaranya, dari sisi sosial maupun dari sisi hukum dan kesejahteraan di berbagai bidang. Karena kewajiban tersebut Negara membuat perangkat hukum sebagai landasan yuridis agar alur dalam menjalankan perannya Negara selalu on the track, sehingga semua regulasi yang diundangkan harus dimaknai sebagai upaya Negara mewujudkan perannya dalam rangka memberikan perlindungan dan kesejahtraan dalam berbagai bidang. Islam sebagai bagian dari hukum di Indonesia  dalam dogmanya sudah sejak awal memberikan dukungan penuh dengan kaidah-kaidahnya maupun materiilnya telah selaras dengan peran mewujudkan kesejahteraan yaitu dengan kaidah dalam fiqhiyah yaitu : sebagaimana tersebut dalam Kitab Al-Ashbah Wa al- Nadloir Halaman 128 :

تصرف الام على الرعبة منوط بِالْمَصْلَحَةِ

 

Artinya : “ Pemerintah mengurus rakyatnya sesuai dengan kemaslahan”.

 

Dari sisi konstitusi perlindungan adalah merupakan hak asasi yang dilindungi sebagaimana ketentuan pasal  28 UUD 1945, berangkat dari maksud uraian di atas inilah mengapa warga Negara dari berbagi karakter dan kondisinya wajib dilindungi dari semua kepentingannya.



 

2.    Bentuk perlindungan yang harus diberikan.

Sistem hukum akan berjalan apabila didukung tiga unsur yaitu sebagaimana disebutkan di bawah ini berjalan seirama, Lawrence M.Friedman memilah operasional hukum  menjadi tiga yang dalam operasional aktualnya merupakan sebuah organisme kompleks dimana struktur ,substansi dan kultur  berinteraksi.[6] Apabila dipahami secara sederhana bahwa struktur ini menyangkut tubuh institusional yang terdiri dari hakim dan orang-orang yang terkait dengan berbagai jenis di pengadilan, Sustansi adalah perangkat hukum yang lahir dari berbagai aturan di institusi itu dijalankan, sedangkan kultur adalah elemen sikap dan nilai sosial.[7]

Pendistribusian kekuasaan di Indonesia dibagi menjadi tiga; eksekutif,legislatif dan yudikatif. Masing-masing tersebut memiliki peran dan tanggtung jawab berbeda, akan tetapi masih dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan ketertiban di semua bidang.

Peran eksekutif adalah sangat luas diantaranya menjamin hak-hak warga Negara terwujud tanpa kecuali, legislatif  berkwajiban mengawasi dan menyediakan perangkat hukum bersama eksekutif, sedangkan yudikatif adalah solusi akhir apabila problem hak dan kwajiban warga Negara tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sudah disediakan berbagai perangkat aturan untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, tinggal warga Negaranya sendiri tanggap apa tidak dengan hak-haknya apakah karena kepekaan aparautrnya yang kurang tanggap; hal itu harus ditelusuri demi tuntutan kostitusi yaitu mensejahterakan warga Negara secara keseluruhan.

Disadari tidak semua perangkat hukum yang disediakan eksekutif dan legislatif mampu menjawab kepentingan warga Negara, hal itu karena hukum yang diciptakan baru sebatas ketentuan garis besar. Adapun tugas penjabaran secara detail kepada warga Negara adalah tugas yudikatif dengan berbagai hak interpretasinya.

Sinergitas tiga lembaga di atas menunjukkan bahwa peran suatu Negara dalam rangka memberikan keadilan adalah keharusan yang tidak dapat ditawar lagi, sehingga apapun kesulitan dan keruwetan warga Negara agar terpenuhi hak –hak hukumnya merupakan kewajiban Negara terhadap warga Negaranya dalam berbagai hal.

 

 

D.   Kesimpulan

1.    Setiap warga Negara harus mendapat perlindungan hukum dari Negara dalam segala hal, apapun kondisinya agar akses publik dapat dirasakan tanpa diskriminasi.

2.    Caranya adalah dengan menempatkan warga Negara sebagai subyek yang harus dilindungi. Apabila terdapat kesulitan secara yuridis untuk  mengakses pelayanan publik; yudikatif sebagai muara akhir untuk memberi jaminan hak hukum warga Negara harus mampu tampil memberikan solusi demi kemanusiaan.

 

Demikian tulisan sederhana ini disampaikan semoga memberikan manfaat kemanusiaan yang lebih luas,sehingga tidak terdapat diskriminasi pelayanan dan perlindungan hukum kepada seluruh warga Negara. Wa Allahu al a’lam bi al shawab.

 



[1] . Wakil Ketua Pengadilan Agama kelas  1 A  Pekalongan.

[2] . ‘Abdallah M.al-Husayn al-Amiri ,2004,Dekonstruksi Sumber Hukum Islam Pemikiran Hukum Najm ad-Din Thufi, Gaya Media Pratama,Jakarta,h.42.

[3]. Ahmad Ali,2013,Menguak Teori Hukum (Legal Theory ) dan Teori Peradilan (Jurisprudence), Kencana ,Vol.1, cetakan ke 5,h.288.

[5] . HLA.Hart,2013,Konsep Hukum,terjemahan M.Khozin, Nusa Media,Bandung,h.246.

[6][6] . Lawrence M.Friedman,2011, Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial,  terjemah M.Khozin, Nusa Media, cetakan ke IV,h.17.

[7] . Ibid,h. 16-17.